"Ini bekas jerawat, Dok."
Kalimat tersebut sering menjadi pembuka konsultasi pasien dengan keluhan bercak gelap di wajah. Namun, bercak yang muncul setelah jerawat tidak selalu sesederhana “bekas jerawat”.
Dalam praktik klinis, post-inflammatory hyperpigmentation (PIH) dapat tampak menyerupai melasma. Pada sebagian pasien, keduanya bahkan dapat ditemukan secara bersamaan. Meski sama-sama menyebabkan hiperpigmentasi, PIH dan melasma memiliki pemicu, pola distribusi, perjalanan penyakit, serta pertimbangan terapi yang berbeda.
Karena itu, ketika menemukan bercak cokelat pada wajah, pertanyaan yang penting bukan hanya “Apa warnanya?”, tetapi juga “Apa yang terjadi pada kulit sebelum bercak tersebut muncul?”
PIH dan Melasma: Dua Hiperpigmentasi dengan Karakter Berbeda
Post-inflammatory hyperpigmentation (PIH) merupakan hipermelanosis didapat yang muncul setelah proses inflamasi atau cedera kulit. Acne, dermatitis, trauma, maupun prosedur tertentu dapat menjadi pemicu. PIH juga lebih sering dan dapat lebih persisten pada individu dengan skin of color [1,2].
Sementara itu, melasma merupakan kelainan hiperpigmentasi kronik dan multifaktorial. Paparan ultraviolet, visible light, faktor hormonal, predisposisi genetik, serta faktor lainnya dapat berperan dalam muncul maupun menetapnya melasma. Kondisi ini juga memiliki kecenderungan mengalami kekambuhan sehingga membutuhkan pengelolaan jangka panjang [4,5].
Perbedaan tersebut menjadi dasar penting dalam menentukan pendekatan. Pada PIH, pengendalian inflamasi yang mendasari menjadi bagian penting dari strategi terapi. Pada melasma, pengelolaan perlu mencakup kontrol pigmentasi sekaligus faktor pencetus dan pencegahan kekambuhan [2,4,5].
Tiga Pasien, Tiga Kemungkinan Diagnosis
Pasien A, Bercak Mengikuti Bekas Inflamasi
Perempuan 24 tahun dengan riwayat acne inflamasi. Setelah lesi aktif mereda, muncul bercak cokelat tepat pada lokasi bekas jerawat. Distribusinya tidak teratur dan lebih dominan pada area yang sebelumnya mengalami inflamasi.
Kemungkinan utama: PIH.
Hubungan antara pigmentasi dan lokasi inflamasi sebelumnya merupakan salah satu petunjuk penting. Acne merupakan salah satu penyebab penting PIH, terutama pada individu dengan skin of color [1,3].
Pasien B, Pigmentasi Simetris
Perempuan 38 tahun dengan bercak cokelat hingga keabuan pada kedua pipi dan dahi. Pigmentasi tampak simetris, lebih jelas setelah paparan cahaya, dan tidak didahului inflamasi lokal. Pasien juga memiliki riwayat penggunaan kontrasepsi hormonal.
Kemungkinan utama: melasma.
Distribusi simetris pada area wajah yang terpapar cahaya mendukung melasma. Pola yang umum meliputi centrofacial, malar, dan mandibular [4].
Pasien C, PIH dan Melasma Bersamaan
Perempuan 31 tahun dengan riwayat melasma. Kemudian mengalami acne inflamasi dan menjalani prosedur peeling. Setelahnya, tampak area pigmentasi yang lebih gelap di atas pola melasma sebelumnya.
Kemungkinan: melasma dengan PIH yang menyertai.
Kasus ini menunjukkan bahwa diagnosis tidak selalu harus memilih salah satu. Proses inflamasi atau cedera kulit dapat memicu PIH pada pasien yang sebelumnya sudah memiliki melasma [1,2,5].
Lima Petunjuk untuk Memilah PIH dan Melasma
1. Apa yang Terjadi Sebelum Pigmentasi Muncul?
Riwayat penyakit dapat menjadi petunjuk awal. Tanyakan adanya acne, dermatitis, iritasi, trauma, reaksi terhadap produk, atau prosedur seperti peeling dan laser.
Pigmentasi yang muncul pada lokasi inflamasi atau cedera sebelumnya lebih mendukung PIH [1,3].
Sebaliknya, melasma tidak harus didahului oleh proses inflamasi lokal dan lebih sering menunjukkan pola pigmentasi yang khas pada area wajah tertentu [4,5].
2. Bagaimana Pola Distribusinya?
PIH umumnya berhubungan dengan lokasi inflamasi atau cedera sebelumnya sehingga distribusinya dapat lebih tidak teratur [1,3].
Pada melasma, pigmentasi lebih khas berupa pola yang simetris, terutama pada area wajah yang terpapar cahaya. Pola yang sering dijumpai meliputi centrofacial, malar, dan mandibular [4].
Namun, simetri bukan penentu tunggal. PIH akibat acne yang luas pada kedua pipi dapat terlihat cukup simetris. Karena itu, distribusi perlu dibaca bersama riwayat inflamasi dan perjalanan penyakit.
3. Bagaimana Perjalanan Pigmentasinya?
PIH dapat mengalami perbaikan secara bertahap setelah proses inflamasi teratasi, tetapi pigmentasi dapat menetap dalam jangka panjang. Systematic review terbaru menunjukkan bahwa PIH pada skin of colour dapat bersifat persisten dan penanganannya masih memiliki keterbatasan efektivitas [2].
Melasma memiliki karakter yang berbeda. Kondisi ini bersifat kronik dan memiliki kecenderungan mengalami kekambuhan. Karena itu, keberhasilan terapi tidak hanya dinilai dari memudarnya pigmentasi, tetapi juga kemampuan mempertahankan hasil dalam jangka panjang [4,5].
4. Apakah Pemeriksaan Penunjang Diperlukan?
Wood's lamp dan dermoskopi dapat memberikan informasi tambahan mengenai karakteristik serta kemungkinan kedalaman pigmen.
Namun, keduanya sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu, bukan sebagai pemeriksaan tunggal untuk menentukan apakah suatu lesi merupakan PIH atau melasma. Studi mengenai penggunaan Wood's lamp dan dermoskopi pada melasma menunjukkan bahwa hasil kedua metode tersebut tidak selalu memiliki kesesuaian yang sempurna. Oleh karena itu, temuan pemeriksaan perlu diinterpretasikan bersama anamnesis dan pemeriksaan klinis [6].
5. Apakah Terdapat Kemungkinan Overlap?
Pada sebagian pasien, pertanyaannya bukan “PIH atau melasma?”, tetapi “Apakah melasma diperberat oleh PIH?”
Pasien dengan melasma dapat mengalami acne inflamasi atau menjalani prosedur yang kemudian memicu PIH. Karena itu, menentukan komponen yang dominan penting untuk menentukan prioritas penanganan [1,2,3].
PIH vs Melasma
Karakteristik | PIH | Melasma |
Pemicu | Inflamasi atau cedera sebelumnya | Multifaktorial: cahaya, hormonal, genetik, dan faktor lain |
Riwayat sebelum muncul | Sering terdapat acne, dermatitis, trauma, atau prosedur | Tidak harus didahului inflamasi lokal |
Distribusi | Berhubungan dengan area inflamasi/cedera; dapat tidak teratur | Umumnya simetris pada area wajah tertentu |
Perjalanan | Dapat membaik bertahap, tetapi dapat persisten | Kronik dan mudah mengalami kekambuhan |
Fokus pengelolaan | Kontrol inflamasi dan pigmentasi | Kontrol pigmentasi, faktor pencetus, dan pemeliharaan hasil |
Diagnosis Menentukan Strategi Terapi
Perbedaan diagnosis penting karena tujuan terapi PIH dan melasma tidak sepenuhnya sama.
Pada PIH, langkah awal adalah mengidentifikasi dan mengendalikan penyebab inflamasi. Terapi topikal untuk hiperpigmentasi dapat dipertimbangkan bersama fotoproteksi. Berbagai modalitas seperti peeling atau laser dapat dipertimbangkan pada kasus tertentu, tetapi perlu dilakukan secara selektif karena inflamasi tambahan berpotensi memperburuk pigmentasi, terutama pada individu dengan skin of color [1,2].
Systematic review tahun 2024 menunjukkan bahwa berbagai modalitas terapi PIH masih memiliki keterbatasan efektivitas. Karena itu, pemilihan terapi perlu mempertimbangkan karakteristik pasien, kedalaman pigmentasi, serta risiko terjadinya pigmentasi pasca inflamasi lebih lanjut [2].
Pada melasma, pendekatan cenderung lebih komprehensif. Fotoproteksi merupakan salah satu fondasi utama, sementara terapi topikal dan modalitas lainnya dapat dipertimbangkan sesuai kondisi pasien. Mengingat sifatnya yang kronik dan mudah kambuh, pengendalian faktor pencetus serta strategi pemeliharaan menjadi bagian penting dari pengelolaan jangka panjang [4,5].
Dengan demikian, target terapi bukan sekadar “menghilangkan noda”. Pada PIH, pengendalian inflamasi yang mendasari perlu menjadi perhatian. Pada melasma, mempertahankan hasil dan meminimalkan kekambuhan sama pentingnya dengan mengurangi pigmentasi.
Jangan Terjebak pada Label “Bekas Jerawat”
Bercak cokelat setelah acne memang sering kali merupakan PIH. Namun, riwayat acne tidak otomatis menyingkirkan kemungkinan melasma.
Pasien dapat memiliki PIH, melasma, atau kombinasi keduanya. Karena itu, diagnosis sebaiknya tidak hanya berdasarkan warna atau satu karakteristik lesi.
Riwayat penyakit, pemicu, pola distribusi, perjalanan pigmentasi, serta pemeriksaan penunjang bila diperlukan perlu dirangkai menjadi satu gambaran klinis yang utuh.
Pada akhirnya, satu pertanyaan sederhana dapat menjadi titik awal:
“Apa yang terjadi pada kulit sebelum bercak ini muncul?”
Jawaban tersebut dapat membantu menentukan apakah kita sedang menghadapi PIH, melasma, atau keduanya, dan menjadi dasar untuk memilih strategi penanganan yang lebih tepat.
Daftar Pustaka
- Davis EC, Callender VD. Postinflammatory hyperpigmentation: a review of the epidemiology, clinical features, and treatment options in skin of color. J Clin Aesthet Dermatol. 2010;3(7):20–31.
- Mar K, Khalid B, Maazi M, et al. Treatment of post-inflammatory hyperpigmentation in skin of colour: a systematic review. J Cutan Med Surg. 2024;28(5):473–480. doi:10.1177/12034754241265716.
- Elbuluk N, Grimes P, Chien A, et al. The Pathogenesis and Management of Acne-Induced Post-inflammatory Hyperpigmentation. Am J Clin Dermatol. 2021;22(6):829–836. doi:10.1007/s40257-021-00633-4.
- Philipp-Dormston WG. Melasma: a step-by-step approach towards a multimodal combination therapy. Clin Cosmet Investig Dermatol. 2024;17:1203–1216. doi:10.2147/CCID.S372456.
- Sarkar R, Desai SR, Sinha S, et al. Delphi consensus on melasma management by international experts and Pigmentary Disorders Society. J Eur Acad Dermatol Venereol. 2026;40(4):680–692.
- Nasar A, Habib A, Ud Din Q, et al. Concordance of dermoscopic findings and Wood's lamp findings in melasma patients. Pak Armed Forces Med J. 2023;73(6). doi:10.51253/pafmj.v73i6.7630.